PENGUKURAN KOEFISIEN BETA SAHAM DALAM SITUASI PANDEMI COVID19 DAN KOREKSI BIAS BETA

Authors

  • Jarot Prasetyo unwidha
  • Imam Santoso unwidha

DOI:

https://doi.org/10.54840/wijob.v2i2.207

Abstract

Dampak pandemi Covid-19 telah sedemikian rupa mempengaruhi perekenomian Indonesia. Situasi ini berimbas pada penurunan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Minat berinvestasi pada saham menurun karena volatilitas harga-harga saham yang semakin tidak menentu. Rangkaian berikutnya adalah timbulnya perdagangan yang jarang terjadi (thin market). Perdagangan yang jarang terjadi akan menyebabkan non– synchronous trading (perdagangan yang tidak sinkron), yaitu suatu situasi di mana beberapa saham tidak mengalami perdagangan selama beberapa waktu. Akibatnya, harga penutupan saham di suatu periode sebenarnya adalah harga saham dari beberapa periode sebelumnya.

Situasi perdagangan yang tidak sinkron akan menyebabkan beta, sebagai salah satu pengukur volatilitas harga saham dan sekaligus indikator risiko berinvestasi pada saham, menjadi bias, karena perhitungan beta menggunakan harga saham beberapa periode sebelumnya dihubungkan dengan indeks pasar periode saat ini. Jika bias, beta tidak mampu menggambarkan risiko sesungguhnya dari saham tersebut. Bias akan terjadi jika nilai beta secara statistik berbeda dari 1. Tetapi menggunakan beberapa metoda tertentu beta saham dapat disesuaikan dengan cara dikoreksi agar mengurangi bias yang terjadi.

Penelitian ini mengukur bias beta setiap saham yang terdaftar dalam Indeks LQ45 selama beberapa periode, kemudian melakukan koreksi terhadap beta tersebut. Beta dihasilkan dengan cara meregresi koefisien dalam persamaan Single Index Model, dilanjutkan pengujian apakah beta-beta tersebut bias secara statistik. Jika terjadi bias maka akan dilakukan koreksi, dimana metoda koreksi yang digunakan adalah metoda Scholes and Williams, metoda Dimson, dan metoda Fowler and Rorke.

Metoda penelitian dilakukan terlebih dulu mengukur beta dengan cara meregresi return saham-saham LQ45 menggunakan Model Indeks Tunggal, di mana return pasar yang digunakan adalah IHSG dan Indeks LQ45. Jika diketahui nilai beta bias secara statistik maka kemudian dilakukan koreksi menggunakan tiga metoda, Scholes and Williams, Dimson, dan Fowler and Rorke.

Hasil penelitian menunjukkan rerata beta yang diukur sebelum koreksi secara statistik bias semua sehingga dilakukan koreksi. Setelah dilakukan koreksi, ketiga metoda justru menghasilkan nilai rerata beta koreksi yang lebih besar dibandingkan nilai beta sebelum dikoreksi. Dan ternyata rerata beta—beta koreksi ini juga mengandung bias.

Di antara ketiga metoda tersebut, metoda Scholes and Williams memberikan nilai rerata beta sebelum dan sesudah koreksi terkecil.

Downloads

Published

2023-11-20